home news guestbook contact
Rabu, 17 Januari 2018 
::HUMAS Pemkab Ketapang

Martin Rantan, SH
Bupati Ketapang
 
 HUMAS PEMKAB
MENU
    Profil
    Struktur
    Tupoksi
    Program Kerja
 
 PEMKAB KETAPANG
MENU
    Visi & Misi
    Lambang & Arti
    Struktur
    DPRD
    Dinas & Kantor
    Kecamatan
    PERDA
 
 LINK SITUS
MENU
   Pemprov Kalbar
   Pemkab Ketapang
   L P S E
   DPU Ketapang
   Visit Ketapang
   Kantor Lingkungan Hidup
 

KIRIM BERITA
 
 
 
 
 
  BERITA

Maknai Ibadah Ramadhan, Tingkatkan Disiplin Diri Sendiri Dalam Bertugas

Pengirim : andy candra
Tanggal : 7 September 2011, 5:22 pm


Salah satu makna dari menjalankan ibadah puasa adalah disiplin. Bupati Ketapang melalui Sekretaris Daerah, Drs H.Andi Djamiruddin M.Si nilai kedisiplinan dalam menjalankan ibadah puasa tersebut dapat diterapkan dalam pelaksanaan tugas sebagai seorang pegawai negeri sipil (PNS). Harapannya itu disampaikandidepan ratusan PNS di lingkungan sekretariat daerah yang melakukan halal bihalal di Surau Al-Kahfi, Rabu (7/9) siang.


“Jadi selama sebulan kita laksanakan ibadah disiplin, tujuan dilaksanakannya halal bihalal ini mungkin selama Idul Fitri karena keterbatasa waktu tidak semua kita dapat saling kunjung mengunjungi untukbersilaturahmi dan memaafkan secara ikhlas, terutama saya baik waktu dinas maupun dalam kesempatan lainnya banyak melakukan kesalahan, kesempatan ini kita manfaatkan untuk saling maaf bermaafan,” kata Drs H.Andi Djamiruddin M.Si, Sekretaris Daerah Kabupaten Ketapang.
Dengan saling memaafkan secara ikhlas, harapannya dapat menjadi umat yang muttakin. Jika sudah menjadi Muttakin, maka ia yakin akan amanlah dunia.Walaupun begitu, tetap ada saja yang melakukan kesalahan. Karena itulah, ia berharap kegiatan halal bihalal ini dapat dilakukan setiap tahun.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda Ketapang juga mengajak untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan sehingga Ketapang yang selama ini kondusif akan selalu aman. Sesuai dengan makna Ramadhan, maka sekda mengingatkana pentingnya untuk disiplin dimulai dari diri sendiri. Ia berharap PNS yang ada untuk terus mengikuti aturan. Jika PNS mengikuti aturan yang ada, maka tidak akan ada persoalan yang perlu dikhawatirkan.
Untuk masa yang akan datang, Sekda Ketapang mengharapkan tidak ada lagi persoalan yang tidak terpuji yang terjadi. Demikian juga harapannya, tidak ada lagi PNS yang nongkrong di warkop. Jika ingin minum kopi, silakan buat di rumah. Kalau kurang satu gelas, bisa dibuatkan sama istri dua gelas bahkan lebih. Ia juga berharap jangan ada fitnah memfitnah. Tetapi dengan ibadah puasa yang dilakukan selama satu bulan harapannya ada semangat baru. “Mari kita bermaaf-maafan dengan ikhlas, dengan memaafkan dengan ikhlas hati yang janggal bisa plong, tingkatkan iman dan takwa, mari kita jalankan tugas dengan tanggungjawab dan tingkatkan disiplin diri sendiri,” ucap Andi Djamiruddin.
Dalam halal bihalal yang dihadiri seluruh staf, kasubbag, kepala bagian, dan asisten setda Ketapaang tersebut diawali dengan pembacaan ayat suci A-Qur’an oleh Dedi Susanto S.Pd.I. Selain itu jugaa disampaikan tausiyah oleh Ustd.H.Zulkarnaen S.Ag. Dalam tausyahnya, H.Zulkarnaen mengajak untuk meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT. Banyak sekali nikmat yang diberikannya kepada kita. Ia mencntohkan bagaimana Lebaran Yang ditunda. Alhamdulillah, kalau ditarik hikmahnya sebenarnya ini juga bagian dari doa diantara kita.
Ia mencontohkan bagaimana, ketika bergurau sesama kita, ketika membeli pakaian baru dipasar ada yang mengatakan lebaran tidak jadi. Sewaktu mengecat rumah, ada yang bergurau lebaran tidak jadi. Akhirnya, lebaran benar-bear ditunda. Subhanallah. Kalau ditarik hikmahnya sebenarnya mempunyai rahmat yang sangat besar.Bagaimana kita yang selama ini tidak pernah sahur pakai ketupat, akhirnya pakai ketupat. Bagiamana yang memotong sapi bisa memtong sapi sampai dua kali. Bagi pedagang bisa melanjutkan aktifitas perdagangannya sampai barang dagangannya laku terjual. Begitu juga limpahan rahmat yang luar biasa, ada masjid yang menggelar sholat idul fitri dua kali dan lain sebagainya.
Subhanallah...Alhamdulllilah, sebenarnya hikmat dan berkah yang besar diberikan kepada kita semua.
H.Zulkarnen mengajak kita semua untuk membiasakan memperbanyak selawat kepada Rasullullah, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT. Dalam kesempatan tersebut, H.Zulkarnaen mengupas panjang lebar mengenai hikmat orang yang mendapat ampunan dari Allah SWT. Dikatakannya, ada tiga golongan yang mendapatkan ampunan dari Allah SWT, diantaranya: Pertama, menginfaqkan dan mensedekahkan sebagian harta yang diberikan oleh Alah SWT. Berbagi itu tidak saja sewaktu senang, tetapi berbagi itu ketika dalam keadaan sakit. Dalam memberikan infaq dan sedekah ia mengimbau kita semua menjaga niat.
Dalam kesempatan itu, ia mencontohkan seorang santri yang menginfaqkan sekilo ubi kepada gurunya. Oleh Allah SWT, niat yang tulus untuk sedekah itu dibalas melalui sang guru dengan seekor kambing. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan seorang santri lainnya. Dan menceritakan pemberian gurunya itu. Santri yang kedua itu berpikir, ubi dibalas dengan kambing. Bagaimana kalau ia sedekah dengan kambing maka akan lebih besar lagi dibalas. Karena niatnya sudah tidak ikhlas, maka ia membawa kambing kepada gurunya (ustad/kyai) sekaligus silaturahmi. Ketika hendak pulang, gurunya pergi kedapur dan bertanya kepada istrinya, ya Ummi apa yang bisa kita berikan kepada tamu kita.
Jawab sang istri, tidak ada apa-apa, yang ada hanya ubi. Maka ubi tersebutlah yang diberikan kepada santri yang kedua. Masya Allah, Maha besar Allah yang membalas keikhlasan dengan kebaikan yang setimpal.
Kedua, dalah adalah orang yang kuat menahan amarah. Padahal ia punya kesempatan untuk marah. H.Zulkarnaen mengupas sebuah nasehat rasullah untuk menahan amarah. Orang yang menahan amarah walaupun ia punya kesempatan akan diberikan kemuliaan. Yang, ketiga adalah orang yang dapat ampunan dan surga Alah adalah orang yang punya sifat memaafkan. Di kupas H.Zulkarnaen, bahwa minta maaf saja sangat berat, apalagi memaafkan. Dosa sesama manusia akan diampuni Allah, jika keduanya sudah saling memaafkan. Sedangkan dosa dengan Allah, pengampunannya langsung pada Allah SWT. Disinilah beratnya mendapatkan maaf dari sesama.
Ustad H.Zulkarnaen S.Ag mengupas bagaimana seorang pemuda musafir di waktu panas terik matahari, dan lapar ingin membasuh muka di sungai. Saat itu, dialiran sungai mengalir sebuah apel. Karena lapar, apel itu langsung di makannya. Setelah setengah buah apel masuk kedalam perutnya, ia pun lantas terpikir pastilah buah apel tersebut ada pemiliknya. Untuk menghalalkan buah apel yang sudah terlanjur dimakan, ia pun menyelusuri sungai dan bertemu sebuah kebun.Dan, ia yakin apel yang dimakannya ittu berasal dari pemilik kebun. Ia pun menemui pemilik kebun, dan memohon agar apel yang sudah termakan setengah itu dihalalkan. Saat itu, pemuda musafir pun diuji. Buah apel yang setegah tersebut dapat dihalalkan tapi ada tiga syarat.
Syarat pertama, ia harus bekerja selama satu tahun tanpa digaji dan hanya diberi makan. Lalu pemuda tersebut melakukan pekerjaan tersebut tanpa digaji. Setelah satu tahun berlalu, maka dia datang kembali ke pemilik kebun, untuk meminta syarat kedua. Syarat berikutnya adalah, ia harus setahun lagi membantu menjaga kebun. Setelah satu tahun berlalu, kembali pemuda musafir tersebut menemui pemilik kebun apel untuk menanyakan syarat ketiga agar setengah buah apel yang dimakannya dihalalkan. Olh pemilik kebun dia diminta kawin dengan anaknya. Pemuda itu menyanggupi. Dikatakan oleh pemilik kebun, anaknya gadisnya adalah kaki dan tangan buntung, buta, dan tidak berambut. Masya Allah,begitu berat syarat untuk menghalalkan setengah buah apel yang sudah terlanjur dimakan. Maka,pemuda musafir itu pun menyanggupi demi setengah buah apel yang dimakannya diridhoi dan dihalalkan.
Tibalah saatnya, ijab kabl dilaksanakan. Ketika malam pertama, pemuda musafir itu menemui istrinya dikamar. Didalam benaknya istrinya buntung, buta dan tidak berambut, Namun, alangkah terkejutnya ia menemui seorang bidadari di kamarnya.pemuda musafir pun segera menemui pemilik kebun yang menjadi bapak mertuanya dan bertanya, wahai bapak dimanakah gerangan istriku yang engkau sebutkan buntng, buta dan tidak berambut.Jawab sang pemilik kebun apel, perempuan yang ada di kamar itulah anaknya dan merupakan istri dari pemuda musafir. Dijelaskan olehnya, kaki dan tangan buntung adalah tidak pernah digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Buta dimaksudkan tidak pernah melihat hal-hal yang maksiat terhadap Allah. Demikian juga dengan rambut sebagai mahkota tidak pernah dilihatkan untuk mengumbar maksiat. Itulah maksud dan makna yang dimaksudkan dari buntung, buta dan tidak berambut. Masya Allah, begitu besar ujian dan rahmat yang dilalui pemuda Musafir dalam menghalalkan makanan yang sudah terlanjur dimakannya setengah. Allah SWT akan memberikan balasan setimpal atas keikhlasan dari umat-Nya. Karena itu, marilah kita mengambil hikmah atas segala ujian dan cobaan dari Allah SWT.*** (Andy Candra)

 
     
  Copyright © HUMAS Pemkab Ketapang - 2007